Konflik Timur Tengah Ancam Harga Pangan, DPD RI Minta Pemerintah Siapkan Mitigasi

oleh -3 Dilihat
Sidang Paripurna ke-8 Masa Sidang IV Tahun 2025-2026, DPD RI, di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Foto: dokumen BPHM.

distorsi.id/, Jakarta – Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, mengatakan ketegangan geopolitik global yang terjadi di kawasan Timur Tengah merupakan ancaman nyata bagi ketersediaan pangan dan daya beli masyarakat menjelang momentum Lebaran 2026.

Hal tersebut dikatakan Sultan dalam Sidang Paripurna ke-8 Masa Sidang IV Tahun 2025-2026, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Gejolak Timur Tengah adalah alarm semua negara. Pemerintah harus segera memitigasi agar kenaikan harga pangan tidak membebani masyarakat jelang Lebaran,” kata Sultan.

Ketua DPD RI menyoroti angka inflasi tahunan per Februari 2026 yang menyentuh 4,76 persen sebagai sinyal waspada bagi ketahanan ekonomi keluarga dan pelaku UMKM di daerah. Ditambah dengan posisi defisit APBN yang mencapai Rp135,7 triliun.

DPD RI menurut Sultan, memandang perlunya navigasi fiskal yang super cermat dan taktis. “Dengan inflasi 4,76%, kuncinya adalah penguatan produksi pangan daerah dan stabilitas distribusi. Jangan sampai rantai pasok terganggu di tengah ketidakpastian global,” tegasnya.

Selain isu ekonomi, DPD RI juga menekan Pemerintah untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan layanan transportasi. Dengan mobilitas masyarakat yang diprediksi melonjak tajam, koordinasi lintas instansi menjadi krusial untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pemudik.

“Tujuan kita satu, memastikan jutaan pemudik bisa pulang dengan aman dan nyaman tanpa terbebani lonjakan harga kebutuhan pokok,” tambah Sultan.

Aspirasi Daerah
Komite I menyoroti penguatan ASN, pemerataan infrastruktur komunikasi, dan tata kelola pembangunan daerah. Komite II mengangkat ketahanan pangan dan konektivitas maritim.

Komite III menekankan pemerataan layanan kesehatan, pengembangan keterampilan generasi muda, perluasan kerja, akses pendidikan, dan penguatan lembaga keagamaan. Komite IV dan BULD menyoroti dinamika ekonomi daerah, ketidakpastian hukum, serta lemahnya penanganan terintegrasi.